Uncategorized

ALUNAN RITME NIETZSCHE (Aku Hanya Bisa Beriman Kepada Tuhan Yang Dapat Menari)

Maka Berbicaralah Zarathustra. Bertopeng pada tokoh imaji, Zarathustra menjadi otak kedua Nietzsche dalam sebuah novel tahun 1883. Dengan menjadi Zarathustra, Nietzsche menjadi orang yang bebas secara ide dan gagasan. Dalam pernyataannya” Aku hanya bisa beriman Kepada Tuhan yang dapat menari”, menggambarkan kehausan sang filsuf atas kebebasan iman dalam kehidupan. Kata ‘menari’ menjadi metafora yang penuh… Continue reading ALUNAN RITME NIETZSCHE (Aku Hanya Bisa Beriman Kepada Tuhan Yang Dapat Menari)

Uncategorized

Sedekah Sederhana

Namanya Sutrisno asal Banyuwangi, atau lebih dikenal dengan Pak Tris. Setiap hari senin-sabtu, beliau membantu mengatur kendaraan yang keluar masuk sebuah jalan sempit sambil berkostum unik di daerah Kutisari, Kec.Wonocolo, Surabaya. Beliau tinggal di sebuah kontrakan kecil di jalan Kutisari Utara III bersama kedua temannya. Setiap hari, beliau mengendarai sepeda ontel tua untuk berangkat menuju… Continue reading Sedekah Sederhana

Uncategorized

Mengintip Film Eropa melalui Tutti Giu

Tahun ini, penyelenggaraan Europe on Screen kembali diadakan di beberapa kota besar di Indonesia. Europe on Screen merupakan salah satu usaha para diplomat untuk menjembatani pertukaran antar budaya, khususnya untuk lebih mengenal budaya Eropa. Film dipilih karena dianggap menjadi alternatif ampuh untuk berkembangnya distribusi global dalam bidang art and culture. Berawal dari tahun 2003, EOS… Continue reading Mengintip Film Eropa melalui Tutti Giu

Uncategorized

GAY

Cerpen tentang jalan Dharmawangsa Ban mobil terus melaju, menyusuri kehidupan malam para kaum urban  yang tak henti-hentinya menebar kesenangan. Warna biru identitas khas angkutan umum itu larut dalam gelap terang cahaya lampu jalanan Surabaya. Seperti biasanya, pekerjaanku menunggu, menjemput dan mengantar manusia bertemu manusia lainnya. Entah sudah berapa jumlah manusia yang menduduki kursi belakangku. Berapa… Continue reading GAY

Uncategorized

KOMA

[Cerpen Tanpa huruf “i”] Kekhasan aroma sayur asam memaksa masuk lewat celah-celah kamar secara perlahan. Sontak aku terbangun, bergegas berjalan menuju sumber aroma makanan kesukaanku berasal. Seorang perempuan berumur empat puluh tahun dengan raut wajah memerah menahan lara, membuat tempe goreng tepung untuk lauk sarapan. Dengan seulas senyum tulus yang memaksa, perempuan tua menyapa anggota… Continue reading KOMA