Uncategorized

Berita vs Sosial Media

Perkembangan teknologi menjadi dilema tersendiri bagi dunia jurnalistik saat ini. Bagaimana teknologi dan media sosial telah mengkuliti sendi-sendi demokrasi dengan cara mempermudah khalayak dalam memperoleh informasi. Dan bagaimana media sosial mampu menyajikan informasi secara cepat, mudah dan up to date. Antusiasme publik terhadap media sosial membuat masyarakat seakan terhipnotis dengan segala fitur yang mendorong  publik dengan mudah mengshare segala peristiwa yang ada di sekitarnya. Belum lagi segala macam berita online yang dapat dinikmati setiap saat. Diakui, media pers seperti media cetak memiliki kelemahan dalam hal timing penerbitan berita. Koran misalnya. Koran membutuhkan waktu minimal 24 jam untuk siap diterbitkan dan diedarkan. Sedangkan jika dalam online, berita bisa langsung diakses pada waktu yang bersamaan saat peristiwa itu terjadi. Selain itu media sosial juga menawarkan tampilan yang lebih menarik, seperti foto saat peristiwa itu terjadi secara cepat. Kelebihan yang lain adalah, sosial media bersifat interaktif. Sehingga khalayak dapat secara langsung menanggapi informasi dan pihak pemberi informasi dapat langsung merespon kembali secara cepat. Dengan adanya media sosial setiap orang dapat membuat dan mengshare informasi maupun berita.

Pada akhirnya, media sosial menimbulkan problematik tersendiri bagi dunia jurnalistik. Seakan-akan media sosial sekarang ini menjadikan opsi lain bagi para pembaca untuk mendapatkan informasi. Sehingga muncul pertanyaan, apakah media sosial serta perkembangan teknologi sekarang ini perlahan akan mematikan eksistensi jurnalisme tradisional seperti jurnalistik cetak ? Jika semua orang mampu menciptakan sebuah berita, apakah semua orang bisa dikatakan jurnalis? Bagaimana sebenarnya posisi jurnalis saat ini ? Dan bagaimana pula batasan suatu informasi dapat dikatakan sebagai suatu berita dalam media sosial?

Tentu setiap negara akan berbeda dalam menjawab pertanyaan diatas karena partisipasi dan antusiasme warga di setiap negara juga berbeda-beda pula. Di Indonesia, dimana warga negaranya tergolong addict terhadap media sosial, pasti perkembangan teknologi berpengaruh besar pada keberlangsungan pers. Nasib eksistensi pers dapat terseok-seok jika pers tidak mau ‘membaur’ dengan kemajuan teknologi saat ini. Jadi ketika pertanyaan ini muncul “apakah media sosial adalah musuh pers?”, jawabannya adalah “tidak”. Pers dapat merubah dan’ menjeburkan’ diri dalam dunia jurnalistik online yakni lewat website maupun fanpage. Bagaimanapun juga, media sosial bukanlah pers meskipun sosial media memuat banyak berita dan informasi. Karena lembaga pers memiliki standart informasi yang dapat dipertanggung-jawabkan karena pers memiliki regulasi tersendiri. Selain itu, Pers dituntut untuk mengabarkan berita yang dapat dijamin kebenarannya, bersifat independen, bukan serta merta sekedar isu dan informasi subjektif. Jadi secara esensi lembaga pers, media sosial bukanlah sesuatu yang bisa disamakan dan dibandingkan dengan konteks jurnalisme.

Meskipun dengan adanya media sosial setiap orang dapat menciptakan berita, namun mereka tidak bisa dikatakan sebagai jurnalis termasuk Jurnalis Warga (JW) atau lebih populer dengan sebutan Citizen Jurnalism (CJ). Karena menurut UU no.40 tahun 1999, seseorang dapat dikatakan jurnalis ketika dia dapat menghasilkan informasi secara teratur sesuai ketentuan kode etik jurnalistik. Yang dimaksud teratur disini adalah menghasilkan berita dalam jarak waktu yang sama. Jadi meskipun saat Kongres beberapa bulan yang lalu di Bukittinggi, Jurnalisme Warga ditetapkan berada dibawah naungan Aliasi Jurnalisme Indonesia (AJI), namun tetap saja status mereka tidak akan berubah menjadi Jurnalis profesional. Karena pada dasarnya mereka hanya meliput saat hanya suatu terjadi, tidak secara konsisten dan terus-menerus dalam jarak waktu yang sama. Selain itu, tidak semua konten informasi yang berada dalam media sosial adalah berita. Berita adalah kesatuan informasi tentang fakta yang terjadi, yang memiliki standart jurnalis, serta kontennya dapat dipertanggung jawabkan. Yang dimaksud kesatuan informasi disini adalah informasi yang tidak terpecah-terpecah, mengandung 5W+1H. Sedangkan di dalam media sosial, orang dapat bebas menulis apapun entah ekspresi maupun informasi. Tapi tak jarang informasi yang disebarkan hanya sepotong dan sangat subjektif. Hal ini juga dapat disebabkan tidak semua orang yang menulis informasi di media sosial adalah orang yang memahami jurnalis, sedangkan seorang pewarta berita sudah pasti memiliki kemampuan dalam hal itu. Itulah kenapa tidak semua informasi dalam media sosial merupakan suatu berita, sedangkan informasi dalam media jurnalistik sudah pasti mengandung berita.

Tentunya dilema ini disadari betul oleh masyarakat Indonesia sebagai pengguna sosial media. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak memahami, bahwa konten dari berita online maupun berita yang tersebar di media sosial bersifat informasi ‘potongan’, bukan secara utuh. Ini memang wajar terjadi karena dalam berita online, jurnalis dituntut untuk sesegera mungkin menginformasikan suatu peristiwa secara cepat. Agar sebagai konsumen informasi kita tidak terjebak dalam informasi yang terpecah dan utuh, kita juga harus up to date dalam mengumpulkan ‘potongan-potongan’ informasi tersebut. Celakanya, tidak semua khalayak yang melakukan itu. Akhirnya sering sekali mayarakat terjebak dalam potongan-potongan realita dan terjebak pada asumsi-asumsi yang menyesatkan karena belum terbukti kebenaranya. Sehingga tidak jarang suatu berita online melakukan koreksi maupun konfirmasi atas beberapa berita yang kontras dalam peristiwa yang sama.

Terjebaknya masyarakat Indonesia dalam ‘potongan realita’ dalam dunia maya secara tidak langsung berpengaruh terhadap ‘kecerdasan’ publik dalam menanggapi suatu peristiwa. Karena mereka akan mudah mempercayai suatu cerita yang belum selesai dan masih dalam suatu bagian yang hilang. Yang pada akhirnya, publik mudah diombang-ambingkan oleh informasi yang simpang siur dan dijebak pada suatu kepentingan kelompok industri media yang sekarang sudah penuh sesak dengan konten yang berisi kepentingan politik para pemilik media. Itu mungkin saja terjadi jika khalayak pasif menerima semua informasi yang ada tanpa adanya usaha mengkaji kebenaran konten berita itu lebih lanjtut.

Di Perancis, perkembangan teknologi tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Namun yang berbeda, masyarakat Perancis masih banyak yang mempercayai media cetak seperti koran dalam mengkonsumsi informasi. Hal ini disampaikan oleh Maud Watire, seorang jurnalis Perancis yang mengatakan bahwa antusiasme dan partisipasi warga Perancis terhadap kemunculan media sosial jauh lebih rendah bila dibandingkan di Indonesia. Mereka yang menggunakan media sosial sebatas untuk mendukung kebebasan individu, menjalin relasi antar kerabat, keluarga maupun relasi bisnis. Atau hanya ketika terjadi kasus yang besar seperti halnya kasus Chalie Hebdo, dimana gerakan pendukung kebebasan pers gencar dilakukan di media sosial khusunya Twitter. Karena ketertarikan yang rendah itulah masyarakat lebih aktif untuk mengkonsumsi koran daripada media sosial. Sehingga bagi dunia jurnalistik Perancis, media sosial bukanlah suatu tantangan dan permasalahan besar. Berbeda dengan di Indonesia, dimana posisi kemajuan teknologi dan media sosial dapat menjadi racun maupun menjadi bibit unggul bagi nasib dunia jurnalistik.New Picture 18_thumb[2]

Advertisements

2 thoughts on “Berita vs Sosial Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s